Selasa, 15 September 2015

BUAH TAQWA

Oleh: Bimawan Syamsudin


جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 8)


Manusia, sejak diciptakan sudah memiliki beban (taklif) yang tidak mampu dipikul oleh makhluk selainnya. Bukan karena kecerdasannya manusia menerima taklif itu, namun sebaliknya, karena kebodohannya. Saat ditawarkan taklif berupa amanah itu oleh Allah, kepada Gunung-gunung, Malaikat, Jin dan makhluk Allah yang lainnya, semua menolak, kecuali manusia.

Peristiwa pentaklifan ini sejatinya pernah di tolak oleh malaikat,

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah[2]: 30)

Ketika Allah menggunakan istilah “khalifah” untuk menyebut ciptaanNya yang baru, malaikat sudah menangkap, makhluk seperti apa yang akan diturunkan di dunia kelak. Namun Allah segera menutup kekhawatiran malaikat itu dengan, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Walaupun ciptaan Allah yang bernama manusia ini memiliki banyak kelemahan dari tipu daya syaithan dan iblis, namun Allah memberikan apresiasi kepada siapa saja yang tetap berpegang teguh di jalanNya. Bahkan peristiwa penciptaan manusia dan penurunannya ke muka bumi ini menjadi kifarah bagi kesalahan manusia pertama Nabi Adam dan isterinya Hawa. Selain itu juga sebagai ujian sekaligus ladang amal bagi manusia untuk bekal menuju hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan dari Allah.

Maka manusia sebagai khalifatullah fil ardh perlu memegang beberapa prinsip untuk mendapatkan kembali fasilitas yang dulu pernah didapatkan Nabi Adam dan Hawa di surga sebelum diturunkan ke Dunia.
  • Kasih Sayang ( الرحمة )
Taqwa dan kasih syang ibarat saudara kembar yang tidak dapat dipisahkan. Kita akan menemukan ketaqwaan di dalam diri seseorang yang memiliki ksih saying, demikian pula kita akan menemukan kasih saying dalam diri orang yang bertaqwa. Tentu semuanya terbingkai dalam keimanan kepada Allah saja. Semakin taqwa seseorang semakin itmi’nan manusia dengan orang tersebut. Dan semuanya itu akan berbalas dengan surga, sebagaimana Allah berfirman,
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 8)
  •  Furqon ( الفرقان )
Dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil. Ketika hati manusia dipenuhi rasa kasih saying yang berpadu dengan ketakwaan, maka akan tumbuh dalam hati manusia itu kemampuan memilih dan memilah, antara yang haq dan yang batil, yang halal dan yang haram, yang boleh dan yang tidak boleh. Dengan begitu manusia akan terbebas dari rasa gundah dan kebingungan.
Firman Allah:
“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal [8]: 29)
  •  Solusi / Jalan Keluar ( الخرج )
Manusia hidup pasti tidak bisa lepas dari masalah, entah besar maupun kecil. Dan masalah akan tetap menjadi masalah, ketika kita tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh untuk keluar dari masalah tersebut. Namun bagi mereka yang bertaqwa, dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan jalan keluar secara mudah dari setiap permasalahan yang dihadapinya.
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 02)
  •  Mendapat Rezeki ( الرزق )
Sebagian besar manusia, ketika mendengar kata rezeki, akan berfikir rezeki adalah kekayaan harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, fasilitas hidup yang serba wah. Namun sebenarnya Allah menurunkan rtezeki kepada manusia bukan hanya itu saja. Bahkan yang terbesar adalah, rezeki yang berupa rahmat, hidayah, kesehatan, umur panjang dan sebagainya. Sementara harta, kekayan dan teman2nya adalah bonus penyempurna dari Allah untuk hambaNya.
“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 03)
  •  Kemudahan ( اليسر )
Tentu, manusia hidup mendambakan kemudahan di setiap urusannya. Namun terkadang lupa kalau menginginkan kemudahan, tentu ada syaratnya. Dan ketakwaan kepada Allah adalah salah satu sebab diturunkannya kemudahan kepadanya.
“Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 04)
  •  Dihapus kesalahannya dan dilipatgandakan pahalanya  ( التكفرالسيئة و التعظيم الأجر )
Sudah menjadi sifat wajib Allah yaitu Al Ghafurur Rahiim, Maha Mengampuni Dosa dan Maha Penyayang kepada siapa saja terutama nmereka yang bertakwa. Tidak main-main dalam hal ini ketika manusia dating kepada Allah dengan sepenuh takwa, maka semua dosa dan kesalahannya akan di ampuni dan semua pahala dan amalannya akan dilipatgandakan balasannya. Lalu bagaimana lagi jika Allah sudah berbuat seperti itu kepada hambanya kecuali akan memasukkannnya ke dalam surga.
“Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya” (QS. Ath-Thalaq [65]: 05)

Jika manusia sebagai khalifah Allah fil ardh bisa memegang terguh prinsip-prinsip di atas, maka kesempurnaan hidup di dunia dan di akhirat akan dia dapatkan. Fasilitas yang dulu pernah didapatkan Nabi Adam dan isterinya, akan kembali didapatkannya. Terlebih nanti di hari akhir, manusia yang hidupnya penuh dengan ketakwaan ini akan dikaruniai kebahagiaan yang sempurna.

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

“Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqrah [2]:200).

Khatimah

Kebaikan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, merupakan puncak prestasi yang akan didapatkan manusia bertakwa. Selayaknya seorang petani yang dengan susah payah mengolah tanah dan menanaminya dengan berbagai tanaman, maka akan menuai bahagia saat panennya berlimpah, buah-buahan yang banyak lagi mendatangkan hasil ibarat seorang yang bertakwa memanen buah dari takwanya, yaitu kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Wallahu a’lam bishawwab.