BUAH
TAQWA
Oleh: Bimawan Syamsudin
جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ
رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا
أَبَدًا ۖ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ
خَشِيَ رَبَّهُ
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu
adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al-Bayyinah
[98]: 8)
Manusia, sejak diciptakan sudah memiliki beban (taklif) yang
tidak mampu dipikul oleh makhluk selainnya. Bukan karena kecerdasannya manusia
menerima taklif itu, namun sebaliknya, karena kebodohannya. Saat ditawarkan
taklif berupa amanah itu oleh Allah, kepada Gunung-gunung, Malaikat, Jin
dan makhluk Allah yang lainnya, semua menolak, kecuali manusia.
Peristiwa pentaklifan ini sejatinya pernah di tolak oleh malaikat,
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan
berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
(QS. Al-Baqarah[2]: 30)
Ketika Allah menggunakan istilah “khalifah” untuk menyebut ciptaanNya
yang baru, malaikat sudah menangkap, makhluk seperti apa yang akan diturunkan di
dunia kelak. Namun Allah segera menutup kekhawatiran malaikat itu dengan, "Sesungguhnya
Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Walaupun ciptaan Allah yang bernama manusia ini memiliki banyak
kelemahan dari tipu daya syaithan dan iblis, namun Allah memberikan apresiasi
kepada siapa saja yang tetap berpegang teguh di jalanNya. Bahkan peristiwa penciptaan
manusia dan penurunannya ke muka bumi ini menjadi kifarah bagi kesalahan
manusia pertama Nabi Adam dan isterinya Hawa. Selain itu juga sebagai ujian
sekaligus ladang amal bagi manusia untuk bekal menuju hari dimana tidak ada
naungan kecuali naungan dari Allah.
Maka manusia sebagai khalifatullah fil ardh perlu memegang
beberapa prinsip untuk mendapatkan kembali fasilitas yang dulu pernah didapatkan
Nabi Adam dan Hawa di surga sebelum diturunkan ke Dunia.
- Kasih Sayang ( الرحمة )
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka
ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha
kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada
Tuhannya.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 8)
- Furqon ( الفرقان )
Firman Allah:
“Hai orang-orang beriman, jika kamu
bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan
jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan
Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal [8]: 29)
- Solusi / Jalan Keluar ( الخرج )
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah
niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq [65]:
02)
- Mendapat Rezeki ( الرزق )
“Dan memberinya rezki dari arah yang
tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya
Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan
yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi
tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 03)
- Kemudahan ( اليسر )
“Dan barang -siapa yang bertakwa
kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS.
Ath-Thalaq [65]: 04)
- Dihapus kesalahannya dan dilipatgandakan pahalanya ( التكفرالسيئة و التعظيم الأجر )
“Itulah perintah Allah yang
diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya
Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala
baginya” (QS. Ath-Thalaq [65]: 05)
Jika manusia sebagai khalifah Allah fil ardh bisa memegang terguh
prinsip-prinsip di atas, maka kesempurnaan hidup di dunia dan di akhirat akan
dia dapatkan. Fasilitas yang dulu pernah didapatkan Nabi Adam dan isterinya,
akan kembali didapatkannya. Terlebih nanti di hari akhir, manusia yang hidupnya
penuh dengan ketakwaan ini akan dikaruniai kebahagiaan yang sempurna.
فَمِنَ النَّاسِ
مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
“Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan
kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian
(yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqrah [2]:200).
Khatimah
Kebaikan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, merupakan puncak
prestasi yang akan didapatkan manusia bertakwa. Selayaknya seorang petani yang
dengan susah payah mengolah tanah dan menanaminya dengan berbagai tanaman, maka
akan menuai bahagia saat panennya berlimpah, buah-buahan yang banyak lagi
mendatangkan hasil ibarat seorang yang bertakwa memanen buah dari takwanya,
yaitu kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Wallahu a’lam bishawwab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar